Cerita Pilu Siswa Merapi Barat! Berebut Suara Guru di Kelas Bersekat Triplek, Menanti Air dan Atap Layak


LAHAT,SL -  Bayangkan belajar matematika ketika kelas sebelah sedang riuh bernyanyi. Bagi para siswa kelas 2 dan 3 di SD Negeri 9 Merapi Barat, Kabupaten Lahat, situasi ini bukan sekadar bayangan, melainkan kenyataan sehari-hari yang harus mereka jalani.

​Keterbatasan ruang kelas memaksa dua rombongan belajar (rombel) berbeda ini berteduh di bawah satu atap yang sama. Pembatasnya? Hanya selembar papan triplek setinggi 1,5 meter yang bahkan tak sanggup menyaring suara riuh pembelajaran antar-kelas.

​"Kalau kelas 2 sedang belajar menyanyi, anak-anak kelas 3 langsung hilang fokus dan malah memperhatikan sebelah. Begitu juga sebaliknya," tutur Santi, guru kelas 3 SDN 9 Merapi Barat, menceritakan dinamika ruang kelasnya.

​Kepala SD Negeri 9 Merapi Barat membenarkan bahwa sekolah tersebut membutuhkan setidaknya dua ruang belajar tambahan agar proses KBM dapat berlangsung kondusif tanpa harus menggabungkan dua kelas menjadi satu.

​Namun, drama pembatas triplek ini hanyalah sebagian kecil dari potret muram sekolah yang terletak di Desa Karangrejo sebuah kawasan eks-transmigrasi PIR Sus Senabing yang dihuni sekitar 130 KK tersebut. Terisolasi sekitar 25 kilometer dari pusat Kabupaten Lahat dan 40 kilometer dari Kantor Camat Merapi Barat, sekolah yang menampung 35 siswa ini bak terpinggirkan dari pembangunan.

​Plafon gedung sekolah di berbagai titik sudah mulai melorot dan rusak. Urusan saniter pun tak kalah memprihatinkan: fasilitas WC memang tersedia, tetapi tak ada tandon penampung apalagi mesin pompa air. Saat musim kemarau tiba, krisis air bersih menjadi ancaman nyata.

​Tak berhenti di situ, era digital yang digaungkan di kota-kota besar seolah tak tersentuh di sini. SDN 9 Merapi Barat berada di zona blank spot sama sekali tak terjangkau sinyal telekomunikasi seluler, apalagi jaringan internet.

​Di tengah segala keterbatasan itu, asa anak-anak pelosok ini tetap menyala. Nuzul Silmi Afiqa, siswi SDN 9 Merapi Barat yang bercita-cita menjadi dokter, menyimpan harapan sederhana. Ia mengidamkan plafon sekolahnya diperbaiki dan impiannya memegang komputer untuk belajar bisa terwujud.

​Kondisi SD Negeri 9 Merapi Barat menjadi tamparan nyata bahwa pemerataan fasilitas pendidikan di daerah pelosok masih memprihatinkan. Pihak sekolah kini menantikan uluran tangan dan perhatian serius dari pemerintah daerah—mulai dari penambahan ruang kelas, perbaikan gedung, penyediaan air bersih, hingga akses internet—demi masa depan anak-anak di pinggiran Lahat.

Seperti Nuzul Silmi Afiqa yang bercita-cita menjadi dokter, berharap adanya rehabilitasi gedung dan bantuan perangkat komputer. Sekolah sangat mengharapkan perhatian dan intervensi cepat dari Pemerintah Kabupaten Lahat demi kelayakan pendidikan anak-anak di wilayah perbatasan tersebut. (Red)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
News

Smartwatchs

News