LAHAT,SL— Bupati Lahat, H. Bursah Zarnubi, melayangkan kritik tegas terhadap pola pengerjaan proyek di daerahnya yang dinilai kerap dipecah-pecah ke dalam skala kecil tanpa koordinasi dan pengawasan yang matang.
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Bursah saat memberikan keterangan pers di hadapan awak media belum lama ini,
Menanggapi temuan di lapangan terkait pelaksanaan proyek pihak rekanan salah satunya contohnya kasus pengerjaan proyek Rimbang Kemambang yang dinilai tidak sesuai standar namun setelah dicari tahu ternyata kontraktornya teman dari konsultannya
Menurut Bursah, praktik memecah proyek dalam skala kecil sering kali berujung pada pengerjaan yang tidak terkontrol, bahkan dikerjakan secara asal-asalan oleh pihak ketiga.
"Ada dari sini kita lihat dibagi-bagian kecil, tapi enggak ada muatannya. Nah, ini enggak boleh," tegas Bursah di hadapan para awak media.
Sebagai solusi agar mutu pembangunan tetap terjaga, Bupati menekankan perlunya peranan aktif dan intervensi dari pihak perbankan dalam mendukung pembiayaan proyek berskala besar. Ia menginginkan agar perbankan turut mengawal pendanaan proyek melalui mekanisme jaminan kontrak yang jelas dan terukur.
Ia juga mengilustrasikan perbandingan penanganan proyek besar dengan proyek kecil agar pengawasan bisa lebih fokus dan akuntabel.
"Kita bilang tadi, perlu peranan bank supaya bank support dananya dengan jaminan kontrak. Kalau ada apa-apa, dia bisa lapor ke bupati. Kamu nanganin 1.000 proyek untung gede, itu kira-kira," lanjutnya dihadapan Kacab Bank Sumsel Lahat.
Perlu diketahui, saat ini Pemkab Lahat di bawah kepemimpinan Bursah Zarnubi berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan terhadap seluruh program fisik maupun infrastruktur daerah.
Langkah ini diambil guna memastikan anggaran yang digelontorkan benar-benar memberikan dampak optimal bagi kualitas pelayanan publik serta kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lahat. (Red)

Posting Komentar