LAHAT, SL — Secercah harapan akhirnya dirasakan oleh warga Desa Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur, Lahat. Setelah menanti kepastian terkait lahan mereka yang terdampak limbah batu bara yang diduga kuat berasal dari aktivitas penambangan PT Pama Persada Nusantara (Pama), pihak PTBA akhirnya merealisasikan pembayaran ganti rugi lahan.
Kendati demikian, angin segar ini belum sepenuhnya meredakan kecemasan warga. Pasalnya, PTBA masih memiliki pekerjaan rumah besar yang mendesak untuk diselesaikannya normalisasi Sungai Pait yang rusak serta penyediaan akses air bersih yang layak.
Bagi masyarakat, ganti rugi materiil hanyalah babak awal. Kehidupan mereka sehari-hari masih dibayangi oleh krisis lingkungan yang belum pulih.
"Kami bersyukur ganti rugi lahan akhirnya terealisasi. Tapi bagi kami, itu bukan akhir. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana air bersih bisa didapat dan Sungai Pait bisa kembali normal seperti dulu. Jangan sampai anak cucu kami terus-menerus menanggung akibat pencemaran ini," ungkap Mul salah seorang warga terdampak, Kamis (30/07/26).
Senada dengan warganya, Kepala Desa Gunung Kembang, Edi Suparno, mengapresiasi langkah awal perusahaan tersebut, sekaligus mendesak agar janji-janji lanjutan segera dieksekusi tanpa penundaan.
"Kami mengapresiasi itikad baik PTBA yang sudah membayar ganti rugi lahan warga. Namun, PR besar kita belum selesai. Kami dari pemerintah desa mewakili masyarakat mendesak agar normalisasi Sungai Pait dan penyediaan sarana air bersih segera direalisasikan, karena warga sangat bergantung pada sungai dan butuh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari," tegas Edi.
Harapan utama warga kini bergeser pada pemulihan ekologis. Sungai Pait yang dulunya menjadi sumber penghidupan bagi sektor pertanian dan aktivitas harian warga, kini dipenuhi endapan limbah yang memprihatinkan.
Warga mendesak agar pengerukan sedimen dan pembersihan alur sungai segera dilakukan secara tuntas, bukan hanya untuk mengembalikan ekosistem, tetapi juga mencegah potensi banjir saat musim penghujan tiba.
Di sisi lain, krisis air bersih akibat hilangnya sumber air layak konsumsi memaksa warga untuk terus bergantung pada pasokan alternatif. Hal ini menjadikan penyediaan infrastruktur air bersih oleh perusahaan sebagai tuntutan yang paling dinantikan.
Persoalan di Desa Gunung Kembang kini menjadi ujian nyata bagi komitmen lingkungan PTBA sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Warga berharap perusahaan tidak berhenti pada ganti rugi lahan semata, melainkan membuktikan kepedulian jangka panjang melalui pemulihan lingkungan yang komprehensif.
Meski senantiasa membuka ruang dialog yang konstruktif, masyarakat Desa Gunung Kembang tetap siaga mengawal realisasi janji-janji tersebut. Normalisasi Sungai Pait dan jaminan air bersih kini menjadi tolok ukur utama keberhasilan tanggung jawab sosial perusahaan di wilayah mereka.(Red)

Posting Komentar