LAHAT, SL – Di atas perut bumi yang kaya akan batubara, nasib malang justru membayangi hari tua Kamisah (70). Di usianya yang telah senja, warga Desa Gunung Agung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, ini terpaksa menghabiskan sisa hidupnya seorang diri di dalam sebuah gubuk berukuran 3 x 5 meter yang kian hari kian mengkhawatirkan.
Dinding kayu yang lapuk, atap yang terancam ambruk, serta ketiadaan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) mandiri—sehingga ia harus menumpang ke tetangga menjadi potret kontras yang tajam di tengah wilayah yang kaya akan sumber daya alam.
Namun, ironi di Kabupaten Lahat terasa semakin menyesakkan dada ketika publik disuguhkan realitas kontras lainnya. Di saat seorang nenek harus bertahan di hunian tak layak huni yang belum tersentuh bantuan pemerintah, justru mencuat proyek renovasi toilet di Gedung Kesenian, Kecamatan Lahat, yang menelan anggaran fantastis mencapai Rp467,4 juta.
Publik membandingkan betapa mudahnya anggaran hampir setengah miliar rupiah digelontorkan untuk sebuah toilet, sementara rumah warga rentan seperti Kamisah hingga kini masih jauh dari perhatian.
Wilayah Merapi Barat, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung energi dan pusat eksploitasi batubara terbesar di Kabupaten Lahat, ternyata masih menyisakan ceruk ketimpangan sosial yang dalam. Kekayaan alam melimpah yang dikeruk setiap hari nyaris tak menyentuh kenyamanan hidup warga paling rentan di sekitarnya.
Camat Merapi Barat, Heri Yulianto, S.Sos., M.M., mengakui adanya ketimpangan tersebut. Pihaknya menyatakan tengah berkejaran dengan waktu untuk mencari solusi terbaik, termasuk menggalang uluran tangan dari korporasi swasta yang beroperasi di sekitar wilayah lingkar tambang.
"Kami berupaya mengajukan proposal bantuan ke perusahaan-perusahaan swasta di sekitar wilayah Merapi Barat. Ke depannya, kami juga akan meneruskan usulan proposal ini ke Dinas Perkim Kabupaten Lahat agar mendapat perhatian khusus," ujar Heri saat dikonfirmasi, Jumat (14/8/2026).
Senada dengan sang camat, Kepala Desa Gunung Agung, Darussalam, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali berupaya mengetuk berbagai pintu demi menyelamatkan tempat tinggal warganya itu.
Menurutnya, kondisi rumah Kamisah sudah berada di ambang bahaya dan mendesak untuk segera dibedah.
"Kami membenarkan adanya warga kami yang sangat butuh bantuan bedah rumah. Kami sangat berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Lahat dapat turun tangan dan membantu warga kami agar bisa memiliki tempat tinggal yang layak huni," tutur Darussalam penuh harap.
Sementara itu, Kadin PUPR Lahat saat dikonfirmasi apakah rumah dengan kondisi seperti ini sudah masuk dalam data RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) di dinas PUPR Lahat ?
Namun hingga berita ini dipublikasikan Kadin PUPR Lahat belum memberikan tanggapan resminya. (Red)

Posting Komentar