LAHAT,SL - "Tidak baik-baik saja." Begitulah frasa yang tepat menggambarkan jeritan dunia kerja di Kabupaten Lahat saat ini. Sebanyak 1.098 pekerja terpaksa harus kehilangan mata pencaharian akibat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang menerjang.
Realita pahit ini dikupas tuntas dalam Podcast PWI Lahat. Menghadirkan Ketua Forum HRD Kabupaten Lahat, Ahmad Roni, bersama host Ketua PWI Lahat, Ehdi Amin, diskusi ini membedah akar masalah yang membuat ribuan kepala keluarga di Lahat kini terancam nasibnya.
Ahmad Roni secara blak-blakan menyebut bahwa badai PHK ini bukan datang tiba-tiba. Puncaknya terjadi pada Januari dan Februari 2026, dipicu oleh kombinasi faktor yang menghantam operasional perusahaan.
"Penyebab utamanya adalah pemangkasan RKAB oleh Kementerian ESDM. Dampaknya nyata, operasional turun, alat-alat berat tak lagi optimal, dan perusahaan terpaksa memangkas jumlah karyawan," ungkap Roni, Sabtu (18/7/2026).
Belum tuntas masalah itu, kebijakan Peraturan Daerah (Perda) terkait larangan angkutan batubara di jalan umum yang efektif per 1 Januari 2026 menjadi "pukulan telak" tambahan. Perusahaan yang belum memiliki akses jalan khusus terpaksa lumpuh total.
"Kondisi ini diperparah dengan melambungnya harga minyak yang mengerek biaya operasional. Perusahaan terjepit, PHK pun menjadi opsi terakhir yang tak terelakkan," tambah Roni.
Menanggapi kecemasan publik, Roni memastikan bahwa Forum HRD tidak tinggal diam. Sinergi dengan pemerintah daerah terus diperkuat untuk mempercepat penyelesaian jalan khusus batubara.
Meski belum stabil, ia optimistis jika akses jalan tersebut sudah optimal, aktivitas perusahaan akan kembali normal. "Ada harapan besar. Jika operasional pulih, tenaga kerja yang terdampak PHK akan diprioritaskan untuk diserap kembali," jelasnya penuh harap.
Terkait pengesahan Perda Ketenagakerjaan yang baru, Roni justru melihat ini sebagai celah perbaikan. Selama ini, pola rekrutmen yang hanya terpaku pada zona ring 1 sering kali terbentur masalah kompetensi.
"Perda ini adalah angin segar. Kesempatan kerja kini terbuka luas bagi seluruh warga Lahat, bukan lagi terbatas pada ring 1 perusahaan," tegasnya.
Namun, Roni memberikan catatan kritis, kompetensi adalah kunci. Ia mengakui banyak putra daerah yang kalah bersaing karena keterampilan yang belum sesuai standar industri tambang.
Sebagai langkah nyata, Forum HRD bersama Pemkab Lahat merencanakan gelaran job fair dalam waktu dekat. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya konkret untuk menjembatani tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri agar tidak ada lagi yang terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.(Red)

Posting Komentar