Update Kasus Limbah Sungai Pait: PTBA Ambil Sampel Uji Laboratorium, Janjikan Ganti Rugi Jika Terbukti


LAHAT, SL – Menindaklanjuti dugaan pencemaran lingkungan di aliran Sungai Pait yang merambah hingga ke perkebunan warga di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur, PT Bukit Asam (PTBA) mulai mengambil langkah investigasi teknis, Rabu (15/04/26).

​Pencemaran yang diduga kuat berasal dari aktivitas pertambangan PT PAMA, selaku subkontraktor PTBA, kini memasuki tahap pengujian ilmiah.

Humas PTBA, Reco, menyampaikan bahwa tim di lapangan telah bergerak untuk mengumpulkan bukti-bukti fisik di lokasi terdampak.

​​Menurut Reco, pihaknya telah mengambil sampel air dan material limbah untuk dilakukan uji laboratorium. Langkah ini diambil guna memastikan kandungan serta sumber pasti dari limbah yang merusak ekosistem sungai dan mematikan tanaman karet milik warga.

​"Langkah awal kami adalah mengambil sampel untuk uji laboratorium terhadap limbah yang mengaliri Sungai Pait serta merusak lahan dan perkebunan warga," ujar Reco kepada media.

​Pihak PTBA juga menegaskan transparansi dalam penyelesaian konflik lingkungan ini. Jika hasil uji laboratorium nantinya mengonfirmasi bahwa pencemaran tersebut merupakan dampak langsung dari operasional PT PAMA, perusahaan menyatakan siap bertanggung jawab sepenuhnya.

​Ada dua poin utama yang dijanjikan pihak perusahaan jika terbukti bersalah yakni

1. ​Mediasi: Menggelar pertemuan resmi dengan warga pemilik lahan dan pihak terdampak.

2. ​Ganti Rugi: Memproses tuntutan kompensasi atas rusaknya lahan dan matinya komoditas perkebunan (karet) milik warga.

​"Jika nantinya memang terbukti limbah itu berasal dari PT PAMA, maka kami akan segera menindaklanjuti dengan melakukan musyawarah, bahkan langkah ganti rugi yang dituntut oleh warga," tegas Reco.

​Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Gunung Kembang, Edi Suparno, meminta agar PTBA bertindak cepat dan tidak mengulur waktu. Ia menekankan bahwa kerugian yang dialami warga bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan hilangnya mata pencaharian utama petani karet.

​Sebelumnya, warga Desa Gunung Kembang mengeluhkan kondisi kebun karet mereka yang mati akibat terendam material lumpur pekat yang diduga limbah tambang.

Keluhan ini memicu reaksi keras dari tokoh masyarakat dan Kepala Desa setempat yang meminta pertanggungjawaban mutlak atas kerugian ekonomi yang diderita petani.

​Hingga saat ini, warga masih menunggu hasil uji laboratorium tersebut dengan harapan adanya solusi yang adil dan pemulihan kondisi lingkungan di sekitar Sungai Pait. (Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Smartwatchs