Lahat Darurat Banjir Kiriman: Properti Tumbuh Subur, Warga Justru Terkubur Lumpur


LAHAT, SL – Pesatnya pembangunan sektor properti di wilayah perkotaan Lahat kini mulai menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pertumbuhan permukiman baru yang tidak dibarengi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ketat diduga kuat menjadi penyebab utama meningkatnya intensitas banjir dan genangan air yang kian meresahkan warga.

​Buktinya, sejumlah titik di Kota Lahat yang sebelumnya dikenal aman dari banjir kini mulai terendam air setiap kali hujan deras turun. Fenomena ini disinyalir terjadi karena hilangnya daerah resapan air serta sistem drainase yang tidak terintegrasi antara area perumahan baru dengan saluran utama kota.

​Aksanul, salah seorang warga Lahat, mengungkapkan bahwa perubahan fungsi lahan dari area terbuka hijau menjadi beton dan aspal menyebabkan air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi.

Sebaliknya, air tersebut menjadi air larian atau run-off yang langsung membebani kapasitas drainase. Kondisi ini diperparah oleh dugaan banyaknya pengembang yang mengabaikan kewajiban menyediakan kolam retensi atau sumur resapan di area proyek mereka.

​Keluhan senada disampaikan oleh Alex, warga terdampak lainnya yang merasakan langsung kiriman air dalam volume besar sejak adanya pembangunan perumahan di wilayah dataran yang lebih tinggi. Mereka mengeluhkan saluran air yang kini tidak sanggup lagi menampung debit air yang datang.

​Menanggapi kondisi yang semakin memprihatinkan ini, dia berharap Pemerintah Kabupaten Lahat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk segera melakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap seluruh pengembang perumahan di kota ini.

"Pemerintah diminta untuk meninjau ulang izin guna memastikan setiap pengembang memiliki dokumen lingkungan yang valid dan menerapkan mitigasi bencana sesuai aturan" ujar Alex

​Selain itu, diperlukan sanksi tegas berupa teguran hingga penghentian proyek bagi pengembang yang terbukti melanggar tata ruang atau tidak menyediakan fasilitas drainase yang layak.

Dia menambahkan, langkah normalisasi infrastruktur juga mendesak dilakukan untuk menyinkronkan drainase permukiman baru dengan saluran pembuangan primer kota agar tidak terjadi penyumbatan kapasitas atau bottleneck.

"Jika langkah tegas tidak segera diambil, dikhawatirkan Kota Lahat akan menghadapi krisis ekologi yang lebih besar dengan kerugian materil warga yang terus meningkat seiring datangnya musim penghujan," punkasnya.  (Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Smartwatchs