Bukan Lagi Bening, Sungai Pait Sekarang Jadi Mirip Kubangan Limbah, Warga Takut Mandi, Ikan Pun Mati!


LAHAT, SL – Jeritan alam dari dasar Sungai Pait kini bergema di tengah keheningan Desa Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur. Sungai yang dahulu menjadi urat nadi kehidupan warga, kini berubah drastis menjadi saksi bisu kehancuran ekosistem yang diduga kuat akibat hantaman limbah pertambangan batubara dari aktivitas raksasa industri, PT PAMA (subkontraktor PT Bukit Asam).

​Warna air yang berubah pekat dan kotor bukan sekadar polusi visual, melainkan ancaman nyata bagi warga yang menggantungkan hidup di tepian sungai. Aktivitas mandi dan mencuci yang telah turun-temurun dilakukan, kini tinggal kenangan.

Bahkan, geliat memancing yang menjadi hobi sekaligus sumber pangan warga pun lenyap, seiring rusaknya rumah bagi biota sungai yang kini nyaris mati total.

​Skandal pencemaran ini mencuat pasca gelombang keluhan warga Desa Gunung Kembang yang menyaksikan lahan perkebunan mereka kian merangsur rusak. Meski tersiar kabar bahwa PTBA mulai melakukan peninjauan, namun luka lingkungan di lapangan sudah terlanjur menganga.

​​Mur (74), saksi hidup kejayaan Sungai Pait, tak mampu menyembunyikan gurat kesedihan di wajah rentanya. Baginya, sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan teman setia saat ia melepas lelah di ladang.

​"Dulu, air ini bening. Kami mandi dan mencuci di sini tanpa rasa khawatir. Sekarang? Jangankan mandi, menyentuh airnya saja kami bergidik ngeri. Kotor dan baunya sudah tidak wajar. Kami rakyat kecil yang punya ladang di sini benar-benar tercekik," ungkap Mur dengan nada bergetar menahan kecewa, Jum'at (24/0426).

​Suara senada datang dari Sar (42). Ia menegaskan bahwa kerusakan ini adalah serangan telak terhadap tatanan lingkungan hidup yang selama ini mereka jaga dengan keringat sendiri.

​"Ikan-ikan sudah musnah, tak ada lagi aktivitas memancing. Kami tidak butuh sekadar kunjungan atau tinjauan seremonial. Kami menuntut tanggung jawab nyata! Pulihkan sungai kami, karena ini adalah satu-satunya sumber air penyambung napas di kebun kami," tegas Sar.

​Hingga saat ini, publik dan warga Desa Gunung Kembang masih menanti dengan cemas: Apakah PT PAMA dan PTBA akan memberikan langkah konkret yang radikal untuk menghentikan laju limbah ini?

Ataukah Sungai Pait akan dibiarkan menjadi parit raksasa yang mati di tengah kepungan emas hitam? (Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Smartwatchs