Debu Hilang, Rezeki Datang, Usai Jalur Batu Bara Dialihkan, Deretan Usaha yang Mati Suri di Merapi Area Kini Ramai Lagi

   Foto hanya ilustrasi

LAHAT, SL – Ada pemandangan berbeda yang menyejukkan mata saat melintasi kawasan Merapi Area, Kabupaten Lahat, belakangan ini. Bukan lagi kepulan debu hitam pekat atau deru mesin truk raksasa yang mendominasi, melainkan geliat ekonomi warga yang perlahan kembali berdenyut kencang.

​Sejak diberlakukannya aturan tegas per tanggal 1 Januari 2026  mengenai larangan angkutan batu bara melintasi Jalan Lintas Sumatera di wilayah tersebut, napas lega seolah berembus di sepanjang aspal Merapi. Dampak paling nyata? Hidupnya kembali deretan warung waralaba dan usaha warga yang selama ini "mati suri" akibat kepungan debu hitam.

​​Selama bertahun-tahun, para pemilik usaha di pinggir jalan lintas ini seolah menyerah pada keadaan. Debu batu bara tidak hanya mengganggu kesehatan, tapi juga mematikan daya tarik dagangan mereka.

​"Dulu mau buka warung saja malas, Mas. Baru dibersihkan semenit, meja sudah hitam lagi. Pembeli pun tidak mau mampir karena tidak nyaman. Sekarang, udara jauh lebih bersih," ujar Agus (38) salah satu pedagang yang kini sibuk menata kembali dagangannya, Minggu (18/01/25).

​​Pantauan di lapangan menunjukkan satu per satu gerai waralaba mulai melakukan renovasi ringan, mengecat ulang dinding yang kusam, dan membersihkan etalase yang dulunya tertutup debu.

​Tanpa adanya kemacetan panjang dan polusi dari truk batu bara, pengendara kendaraan pribadi kini mulai berani menepi untuk berbelanja atau sekadar beristirahat.

​Tak hanya soal cuan, kualitas udara yang membaik membuat interaksi sosial di depan toko kembali hidup tanpa perlu masker yang tebal.

​Kebijakan pengalihan arus angkutan batu bara ini terbukti menjadi oase bagi UMKM dan usaha waralaba lokal. Kawasan Merapi Area yang dulunya identik dengan jalanan "kelam", kini perlahan bersolek menjadi pusat ekonomi warga yang lebih bersih dan menjanjikan.

​Langkah ini diharapkan terus konsisten dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton di tanah kaya sumber daya alam, tapi juga bisa menikmati manfaat langsung berupa lingkungan yang layak untuk berniaga dan ditinggali. (Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Smartwatchs